Sejarah Singkat Kopi

Kopi telah menjadi minuman primadona bagi penikmat kehidupan sosial sejak abad ke-15. Sebelum abad ini, kopi hanyalah minuman tradisional bagi masyarakat Ethiopia yang menemukan bahwa biji kopi lezat untuk diolah setelah mengamati kambing yang doyan memakan biji kopi pada abad ke-9 (seperti ditulis dalam buku The World of Caffeine: The Science and Culture of the World’s Most Popular Drug, karangan Bennett Alan Weinberg, dan Bonnie K. Bealer).

Namun, pandangan lain mengatakan bahwa sejarah kambing tersebut hanya legenda belaka, sebab sejarah tentang kopi yang benar valid baru ditemukan pada abad ke-13 tepatnya pada tahun 1401. Pada tahun ini, Sultan Sa’ad ad-Din II yang merupakan pemimpin Kesultanan Ifat mencari solusi untuk bagaimana prajuritnya dapat mengatasi rasa lelah dan kantuk saat berada di medan perang. Pada saat itu, sedang berkecamuk perebutan kekuasaan di wilayah kesultanan tersebut. Seorang sufi bernama Ali ben Omar yang berasal dari Yaman mengenalkan minuman kopi pada Sultan sebagai ramuan untuk mengatasi masalah yang dialami prajurit kesultanan. Kopi kemudian menjadi populer di wilayah Afrika sampai ke pesisir Timur Tengah sebagai ramuan untuk menambah energi (dalam buku First Footsteps in East Africa: Or, An Exploration of Harar, karangan Sir Richard Francis Burton, John Hanning Speke, William C. Barker).

Definisi minuman kopi adalah hasil seduhan biji kopi yang sebelumnya telah disangrai dan kemudian dihaluskan menjadi bubuk. Minuman kopi bukanlah hasil dari menyeduh dari biji kopi yang masih mentah dan utuh. Proses pengolahan kopi ini menjadi diketahui dunia akibat peran dari bangsa Eropa yang pada abad ke-16 hingga ke-17 melakukan perdagangan internasional dengan wilayah Timur Tengah yang saat itu dikuasai oleh Kesultanan Ottoman. Kopi yang dianggap minuman penambah energi menjadi salah satu kebutuhan bagi bangsa Eropa saat melakukan pelayaran jauh. Hingga pada tahun 1615, biji kopi dibawa dari Turki oleh perusahaan dari Venesia, Italia untuk dicoba dibudidayakan di Eropa. Bangsa Belanda adalah yang kemudian berhasil pertama kali membudidayakannya pada tahun 1616. Biji kopi yang dibudidayakan oleh Belanda adalah varietas biji kopi Arabika.

 

Belanda sebagai Artis Kopi Internasional

70 tahun setelah sukses membudidayakan kopi di tanahnya, Belanda kemudian mencoba untuk membudidayakannya di tanah Indonesia, yang pada tahun 1690 merupakan pemasok utama komoditas perusahaan perdagangan kerajaannya yaitu VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Pulau Jawa ditunjuk menjadi wilayah pertama kali yang ditanami biji kopi, dan ternyata berhasil, namun kurang diminati oleh warga Eropa karena rasanya yang terlalu pahit dan terdapat rasa arang. VOC kemudian mencoba menanam kopi di wilayah lain yaitu Sumatera, tepatnya di pesisir Aceh pada tahun 1715. Kali ini, hasil olahan biji kopinya sangat laris di Eropa dan mengalahkan biji kopi dari wilayah lain seperti Afrika Utara dan Timur Tengah. Raja Perancis saat itu Louis XIV bahkan meminta pasokan khusus kopi Aceh tersebut untuk kerajaannya dalam jumlah yang banyak. Antusiasme kerajaan Prancis dalam mengonsumsi minuman kopi pada saat itu menjadi sebuah fenomena sosial baru di Prancis, yaitu gaya bersosial sambil meminum kopi. Banyak kemudian tempat minum kopi yang muncul, baik yang untuk kelas sosial bawah hingga bagi kaum bangsawan. Antusiasme ini jugalah yang akhirnya disadari kaum ilmuwan saat itu bahwa kopi memiliki efek candu (dalam artikel Coffee, Beyond The Buzz di majalah National Geographic, edisi Agustus 2009).

Pada era Tanam Paksa atau Cultuurstelsel (1830—1870) masa penjajahan Belanda di Indonesia, pemerintah Belanda membuka sebuah perkebunan komersial pada koloninya di Hindia Belanda, khususnya di pulau Jawa, pulau Sumatera dan sebahagian Indonesia Timur. Jenis kopi yang dikembangkan di Indonesia adalah kopi jenis Arabika yang didatangkan langsung dari Yaman. Pada awalnya pemerintah Belanda menanam kopi di daerah sekitar Batavia (Jakarta), Sukabumi, Bogor, Mandailing dan Sidikalang. Kopi juga ditanam di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatra, Sulawesi, Timor dan Flores. Pada permulaan abad ke-20 perkebunan kopi di Indonesia mulai terserang hama, yang hampir memusnahkan seluruh tanaman kopi. Akhirnya pemerintah penjajahan Belanda sempat memutuskan untuk mencoba menggantinya dengan jenis Kopi yang lebih kuat terhadap serangan penyakit yaitu varietas kopi Robusta. Namun didaerah Timor dan Flores yang pada saat itu berada di bawah pemerintahan bangsa Portugis tidak terserang hama meskipun jenis kopi yang dibudidayakan disana juga kopi Arabika.

Lepas dari era kolonialisme Belanda, banyak petani kopi di Indonesia yang kemudian masih meneruskan ladang kopi varietas robusta, yang digemari oleh masyarakat karena tidak hanya dapat dijual dengan harga yang murah namun juga rasanya sudah akrab selama ratusan tahun di lidah masyarakat. Baru pada tahun 2000, setelah perusahaan kopi internasional Starbucks mulai berbisnis di Indonesia, banyak petani kopi yang beralih menanam biji kopi varietas Arabika karena tingginya permintaan dunia internasional untuk biji kopi varietas tersebut. Juga, momen ini menguntungkan para petani kopi terutama di wilayah Sumatera, sebab biji kopi varietas Arabika memiliki harga jual yang jauh lebih tinggi dari varietas biji kopi Robusta.

(Kopipedia/ibbp)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *